Pagi itu
suasana di kelas agak hening karena belum banyak siswa yang datang. Saat itu
hanya terlihat beberapa orang yang sibuk sendiri dengan kegiatannya masing-
masing. Dua diantara mereka terlihat sibuk dengan cermin dan perlengkapan make
upnya.
Etty : Egh Fhyra,
muka aku dah cantih belum? (sambil memandang ke fhyra)
Fhyra : Lumayan, tapi bedak kamu agak kurang deh.
Etty : Akh masa sih??
(sambil melihat kembali ke cermin)
Fhyra : iya seriuss.
Etty : iya yahhh, agak
kurang, tambahin akhh. (sambil mengoles bedak ke pipinya).
Gimana sekarang dah cantik belum?
Fhyra : hmmm… itu baru bagus, perfect deh. Kalau aku gimana?
Etty : mmm, perfect. Emang iya yah kalo kita berdua,
selalu perfect. Uwwhhh..
Dari luar tampak
Yhana dan Nurba berjalan dari luar memasuki kelas dan tatapan sinisnya
menghampiri fhyra dan etty yang tampak asyik berdandan. Kemudian mereka
langsung menghampiri mereka berdua.
Yana : (sambil memukul
meja) egh masih pagi udah dandan, mang di rumah kamu gak punya
cermin yah?
Nurba : iya nih, menghalangi pemandangan saja, emang gak
punya kerjaan lain apa? Nyapu kek, apa kek.
Etty : Egh, suka-suka
aku yah. Apa hak kamu larang aku dandan di kelas? Masalah gitu buat kamu?
Yhana : Ya iyalah masalah, ini kan kelas. Kalau mau dandan,
kesalon saja sana.
Fhyra : Egh sirik banget sih kamu! Kalo mau dandan, dandan
ajah juga, gak ada yang larang deh akh.
Nurba : Diam loe!
Etty : kamu tuh yang seharusnya diam, Cuma dandan di
kelas saja kamu permasalahkan, pergi
sana,
menghalangi pemandanganku saja.
Kemudian Yaana dan Nurba meninggalkan meja fhyra dan Etty dan
beranjak ke tempat duduknya.
Yana : bikin kesal
ajah deh mereka, pusing tau gak sih liat mereka dandan menor trus.
Nurba : Sama aku juga kesel liat mereka berdua yang bisanya
Cuma dandan saja.
Selang beberapa menit kemudian, bel tanda jam pertama telah
berdering. Semua siswa memasuki kelas masing-masing. Dan dari ruang guru tampak
bu Isra guru biologi, masuk ke kelas.
Bu Isra : assalamu alaikum
Semua : Waalaikum
salaam bu!!
Bu Isra : Bagaimana
kabarnya hari ini, sehat semuanya?
Semua : Alhamdulillah
bu,
Bu isra : Okey, naikkan
kertas kalian. Hari ini kita ulangan, minggu lalu saya janji ulangan tentang
sel hewan ya kan. Tutup buku kalian dan masukkan ke dalam tas.
Bu Isra pun menulis soal di papan.
Yhana : Mampus deh hari ini, aku lupa kalo ada ulangan,.
Gimana nih nurba.
Nurba : Aku juga gak
tau,mana belum belajar lagi,
Yhana : Truz gimana
nih?
Nurba : Minta ajah ma
anak cupu Nurlina ataw sam. Pasti dia mau kasih itu, atau kalau tidak,
Nyontek
di buku ajah.
Yhana : Ide bagus tuh,
boleh-boleh.
Nurba : Oke deh, sip!
Ulangan biologi pun di
mulai. Suasana di kelas saat itu sangat hening hingga ketika salah satu siswa
berteriak.
Sahriani : Bu’ Nurba nyontek tuh bu’
Nurba : apa-apaan sih
kamu? ( dengan muka geram ke sahriani)
Bu Isra : Nurba Coba berdiri, dan kedepan ke ibu.
Nurba : tapi saya
tidak menyontek bu.
Bu Isra : kalo kamu memang tidak menyontek, maju kedepan.
Nurba : Iya Bu,
(berdiri dan naik ke tempat yang disuruhkan oleh bu isra.
Bu Isra : Nurba ini
apa? Kamu nyontek yah? (Sambil
mengambil buku yang berada dalam laci nurba)
Nurba : Maaf bu, tadi
malam saya tidak belajar.
Bu Isra : Kamu keluar
dari ruangan ini, dan saya anggap kamu tidak tuntas pada pembahasaan ini.
Nurba pun beranjak keluar, dan bergumang untuk membalas
perbuatan hasriani. Karena gara-gara dialah, dia di keluarkan dalam kelas.
Selang beberapa menit, bel jam istirahat telah berdering, dan Yhana pun keluar
menghampiri sahabatnya itu.
Nurba : Pokoknya saya
harus membalas perbuatan dia.
Yhana : iya, saya
juga kesel ama dia, gimana kalo kita kerjain dia?
Nurba : Boleh juga tuh
ide kamu, tapi kerjainnya bagaimana?
Yhana : sini saya bisikin.
Nurba : hem, okey, besok kita jalankan rencana
ini.
Suasana di kantin saat itu
sangat riuh , karna saking laparnya siswa siswa. Kemudian tampak 3 preman
sekolah yang sudah di
kenal seluruh sekolah, syarifullah, awal, dan
Bintang.
Syarif : Egh, cupu
Pajak mana. Hari ini Kamu belum
stor sama aku.
Syam : Pajak apaan sih, kemarin kan aku sudah
setor
Syarif : Ya iya kemarin, tapi hari ini belum.
Nurlina : Kamu ini apa-apaan sih, kerjaan Cuma
minta uang ajah.
Syam
: Maaf hari ini aku tak punya uang.
Bintang : Saya gak
mau tau, pokoknya kamu harus setor hari ini sama kami.
Nurlina : Tapi kami tidak punya uang.
Awal : Kalau kamu gak mau kasi, buku ini aku
ambil lalu aku buang (sambil mengambil buku yang sedang di pegang oleh Lina)
Syam : Jangan ambil buku dia, kami mohon jangan,
buku itu berarti sekali untuk kami.
Syarif : Saya gak mau tau, kalo kamu mau buku ini,
bayar setor hari in.
Wilda : Egh,
apa-apaan sih, sukanya hanya majak orang, kalau mau uang, sana kerja, jangan
majak orang, kasian tau.
Awal : Egh, kamu jangan jadi sok pahlawan yah,
Wilda : Siapa juga
yang jadi pahlawan, aku Cuma mau bantuin teman aku, itu ajah.
Syarif : Kalo gitu
kamu yang bayar pajaknya sam dan lina, kamu kan temannya.
Wilda : Oke (sambil
mengambil uang selebaran duapuluh
ribu). Ini, pergi, dan jangan pernah gangguin sam dan lina lagi.
Syarif :
Hahahaha.. ayo teman kita pergi (sambil mengajak awal dan bintang pergi)
Syarifullah dan
kawan-kawannya pun meninggalkan wilda, lina dan sam.
Sam : Makasih yah udah bantuin kami, kalau bukan
kamu, aku nggak tau apa yang akan dilakukan syarifullah dan kawan-kawannya
terhadap kami.
Wilda : iya, tak
apa-apa kok.
Lina : Tapi kenapa kamu membayarkan pajak kami?
Seharusnya kamu tak memberinya uang, kalau dibiasakan seperti itu, lama-lama
dia malah minta terus.
Wilda : Sudahlah, biar saja. Kalau kalian masih
diganggu, sekali-sekali melawan dong.
Sam : Tapi kami takut.
Wilda : Sudahlah, oh iya ayo kita ke kelas.
Sam, nurlina dan wilda pun meninggalkan kantin dan beranjak
ke kelas.
Syarifullah :
Hahaha, dapat jatah lagi nih.
Bintang : tapi
kayaknya ini kurang deh!
Awal : iya, kalo
uang segini mana bisa beli minuman, ini mah gak cukup.
Syarifullah : Egh,
itu Etty dan fhyra kita pajakin yuk.
( syarifullah
pun pergi menuju ke tempat di mana fhyra dan etty duduk)
Awal : Hy cantik.
Etty : Egh apaan
sih, gak usah sok manis di depanku deh.
Fhyra : Pasti
kemari untuk malak kami yah?
Bintang : itu dah tau, sekarang bagi uangmu.
Etty : tidak mau,
uang aku terlalu bersih untuk aku bagikan ke kamu, pergi sana atau aku teriak
nih.
Syarifullah :
teriak ajah, emang ada yang dengar.
Etty pun berteriak, dan ternyata, pada
saat itu Pak Yusuf sedang lewat dan
melihat kejadian itu.
Pak Yusuf : Egh..
Egh... Kau mau jadi Preman kah?Kalau kamu mau majak jangan sekolah disini. Apa
ini sekolah nenek moyang kamu sehingga seenaknya kamu majak?
Bintang : Saya
Tidak majak pak, saya Cuma lewat disini, tapi tidak tau kenapa Etty malah
berteriak pak.
Etty : Bohong
Pak!! Tadi dia majakin kami berdua.
Fhyra : iya pak,
dia majakin kami.
Pak Yusuf : Oh,
jadi kamu mau berbohong sama bapak?
Syarif :
tidak pak, tapi kami bukan preman dan tidak memajakin mereka pak.
Pak Yusuf : Ikut
saya ke kantor
Pak
yusuf pun membawa ke-3 preman ini ke ruangan kepala sekolah
Pak Yusuf :
assalamu alikum . pak!
Pak Alim :
wa’alaikum salam. Wah!!!!. (terkaget) kenapa pak bawa murid kesini?
Pak yusuf : ini
pak. Ke-3 anak ini suka memalak di pelataran sekolah...
Bintang : tidak
pak!!. Kami tidak pernah memalak kok pak..
Awal : betul pak! . kami tidak pernah
melakukannya.
Pak alim :
SUDAAAHH DIIIIAAAAMMM!!!!!!!!!!!!!!!!!! . Saya tidak menyuruh kalian bicara !!
. Pak Yusuf apakah yg meraka katakan betul adanya.?
Pak Yusuf : Tidak
pak . saya sudah melihat dgn mata kepala jidat kaki tangan saya sendiri. Bahwa
mereka memalak siswa disini
Pak Alim : Kalau
begitu ini surat untuk orang tua kalian masing-masing. Besok kalau orang tua
kalian tidak datang, terpaksa saya akan menghukum kalian.
Syarifullah : iya
pak
Pak alim :
apa kalian tidak berfikir tentang perasaaan orang tua kalian? Mereka pasti
kecewa kepada kalian karena perbuatan kalian.
Awal : iya, kami minta maaf pak.
Pak
Alim : Sekarang kalian bisa keluar dari
ruangan saya.
Pulang sekolah, Syarifullah pun memberikan
surat panggilannya kepada ibunya. Dan betapa terkejutnya Ibu syarifullah
menerima surat tersebut.
Syarifullah : BU, ini surat panggilan dari kepala
sekolah.
Ibu
Aulia : kamu ngapain lagi nak di
sekolah, sampai-sampai ibu di panggil lagi ke seolahanmu. Kamu malakin
teman-teman kamu lagi yah?
Syarif : akh, ibu ini gak usah banyak nanya,
pokoknya besok ibu harus datang.
Ibu aulia : nak, kita ini orang tidak punya, kamu
seharusnya bisa membanggakan ibu, bukan malah mempermalukan ibu di depan kepala
sekolahmu.
Syarif : ibu ini, Diam. Dengar yah, aku menyesal
terlahir dari orang miskin seperti ibu, aku melalukan hal ini disekolah karena
ibu tidak pernah memberiku uang yang cukup.
Mendengar
hal tersebut, Ibu syarifullah terduduk diam sedih dan menangis mendengar
penuturan dari anak tunggalnya ibu Syarifullah jatuh Sakit. Dan keesoka
harinya.
Pak
Alim : Pak Yusuf, coba panggilkan saya
yarifullah dan teman-temannya.
Pak
Yusuf : Baik Pak.
Pak Yusuf
pun meninggalkan ruangan dan menuju ke kelas Syarifullah. Dan ketika sampai
disana..
Pak
Yusuf : Kenapa kalian ribut sekali, apa
yang sedang kalian lakukan.
Nurlina : Ini pak, katanya dompet Etty Hilang.
Pak
Yusuf : Apa betul dompet kamu hilang?
Etty : Iya
pak,tdi waktu istirahat, saya simpan di tas pak, tapi pas saya balik, dompet
saya hilang.
Pak
Yusuf : apa di kelas tadi ada temanmu
yang tinggal?
Etty : waktu itu yang terakhir keluar adalah saya
sendiri pak, selepasnya saya sudah tidak tau.
Pak
Yusuf : Okey, kalo begitu bawa kedepan
semua tas kalian dan duduk, dan untuk kalian bertiga (sambil menunjuk
syarifullah, bintang dan awal) kalian di panggil ke ruangan kepala sekolah. Dan
etty, tolong bantu bapak untuk memeriksa tas kalian satu persatu.
Etty : Baik pak.
Syarifullah, awal dan bintang pun keluar
menuju ke ruangan kepala sekolah, sementara etty dan pak Yusuf sibuk memeriksa
tas.
Fhyra : Pak, ini Dompet Etty.
Pak Yusuf : Apa benar ini dompet kamu? (sambil
menunjukkan dompet ke Etty).
Etty : Iya pak, ini dompet saya.
Pak
Yusuf : Ini tas siapa??
Sahriani : itu tas saya pak, tapi bukan saya pak
yang ambil.
Etty : jelas-jelas dompet saya ada di
tas kamu.
Sahriani : tapi sumpah, bukan saya yang ambil dompet
kamu.
Fhyra : Egh, maling mana ada yang ngaku, kalo
maling ngaku, penjaramah penuh.
Pak
Yusuf : sudah-sudah, Sahriani, Etty,
kamu ikut bapak ke ruangan.
Sahriani dan Etty pun beranjak
meninggalkan kelas, dan tampak Yhana dan Nurba tersenyum puas melihat kejadian
itu yang membuat Wilda curiga. Wilda pun keluar mengikuti langkah sahriani.
Wilda : Ani, tunggu aku,.
Sahriani : kenapa, kamu juga percaya kalo aku yang ambil
dompet itu?
Wilda :
Tidak, saya percaya kalo bukan kamu yang ambil dompet itu.
Sahriani : Tapi aku takut.
Wilda : Kamun gak usah takut, toh bukan kamu
yang ambil dompet itu, optimis dong, jangan bersedih dan pesimis gitu.
Sahriani : MAkasih yah.
Ketika berada di dalam
ruangan, Bu isra mendapati kabar dari salah seorang siswa bahwa yang memasukkan
dompet etty ke dalam tas Sahriani adalah
Nurba dan Yhana. Bu Isra pun segera menuju ke ruangan Pak Yusuf untuk
menjelaskan hal tersebut.
BU Isra :
Pak Yusuf, maaf sebelumnya, tadi saya mendengar informasi dari salah seorang
siswa bahwa yang memasukkan dompet ke tas Sahriani adalah Nurba dan Yhana.
Pak
Yusuf : Apa siswa itu mempunyai bukti
sehngga ibu percaya begitu saja?
Bu Isra :
Siswa tersebut sempat memperlihatkan Video yang memperlihatkan kalau Nurba dan
Yhana yang memasukkan dompet itu ke tas Sahriani.
Pak
Yusuf : Kalo begitu, PAnggilkan aku
YHana dan NUrba.
BU isra pun memanggil Yhana dan Nurba
untuk di tanyai.
Yhana : Ada apa PAk?
Pak
Yusuf : Begini, saya mendengar informasi
kalau kamu lah yang memasukkan dompet etty ke tas sahriani.
Nurba : Apa bapak punya bukti?
Pak
Yusuf : IYa, salah seorang siswa punya
video kamu yang sedang memasukkan dompet Etty ke Tas SAhriani kalian tidak bisa
mengelak.
YHAna dan
Nurba : MAaf pak, Maafkan kami.
NUrba :
kami melakukan hal ini karena
kami kesal sama Hasriani. Kemarin gara-gara dia, saya di keluarkan waktu
ulangan. Tapi kami menyesal pak.
Pak
Yusuf : kalau begitu kamu minta maaf
sama hasriani dan Etty, dan saya tidak mau mendengar kalau kalian berbuat
begitu lagi.
Etty, nurba, Yhana, Hasriani pun
saling berjabat tangan dan semuanya pun damai.
Disisi lain,
Syarifullah terkejut saat dia berada dalam ruangan kepala sekolah, karena ada
telepon yang mengatakan bahwa Ibunya, Bu Aulia meninggal dunia karena sakit.
Pak
Alim : Syarifullah, tadi ada telpon dari
tetanggamu.
Syarifulla : Ada apa emangnya pak?
Pak
Alim : Tabahkan hatimu yah, ibu kamu
telah meninggal dunia.
Syarifullah :”a…a… apa bapak bercanda? (kaget)
Pak
Alim : Saya serius.
Syarifullah
terdiam lesu mendengar penuturan itu, dan saat itu, dia langsung pulang ke
rumahnya.
Syarifullah
sejak kematian ibunya berubah 180 derajat, dan mulai merubah dirinya dan
teman-temannya untuk berbuat yang lebih baik.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar