Rabu, 05 Agustus 2015

drama pendais kelas xi



        Pagi itu suasana di kelas agak hening karena belum banyak siswa yang datang. Saat itu hanya terlihat beberapa orang yang sibuk sendiri dengan kegiatannya masing- masing. Dua diantara mereka terlihat sibuk dengan cermin dan perlengkapan make upnya.
Etty   : Egh Fhyra, muka aku dah cantih belum? (sambil memandang ke fhyra)
Fhyra : Lumayan, tapi bedak kamu agak kurang deh.
Etty   : Akh masa sih?? (sambil melihat kembali ke cermin)
Fhyra  : iya seriuss.
Etty  : iya yahhh, agak kurang, tambahin akhh. (sambil mengoles bedak ke pipinya).
            Gimana sekarang dah cantik belum?
Fhyra : hmmm… itu baru bagus, perfect deh.  Kalau aku gimana?
Etty  : mmm,  perfect. Emang iya yah kalo kita berdua, selalu  perfect. Uwwhhh..
      Dari luar tampak Yhana dan Nurba berjalan dari luar memasuki kelas dan tatapan sinisnya menghampiri fhyra dan etty yang tampak asyik berdandan. Kemudian mereka langsung menghampiri mereka berdua.
Yana  : (sambil memukul meja) egh masih pagi udah dandan, mang di rumah kamu gak punya
              cermin  yah?
Nurba : iya nih, menghalangi pemandangan saja, emang gak punya kerjaan lain apa? Nyapu kek, apa kek.
Etty  : Egh, suka-suka aku yah. Apa hak kamu larang aku dandan di kelas? Masalah gitu buat kamu?
Yhana : Ya iyalah masalah, ini kan kelas. Kalau mau dandan, kesalon saja sana.
Fhyra : Egh sirik banget sih kamu! Kalo mau dandan, dandan ajah juga, gak ada yang larang deh akh.
Nurba : Diam loe!
Etty :    kamu tuh yang seharusnya diam, Cuma dandan di kelas saja kamu permasalahkan, pergi
              sana, menghalangi pemandanganku saja.

Kemudian Yaana dan Nurba meninggalkan meja fhyra dan Etty dan beranjak ke tempat duduknya.
Yana  : bikin kesal ajah deh mereka, pusing tau gak sih liat mereka dandan menor trus.
Nurba : Sama aku juga kesel liat mereka berdua yang bisanya Cuma dandan saja.

Selang beberapa menit kemudian, bel tanda jam pertama telah berdering. Semua siswa memasuki kelas masing-masing. Dan dari ruang guru tampak bu Isra guru biologi, masuk ke kelas.
Bu Isra  : assalamu alaikum
Semua  : Waalaikum salaam bu!!
Bu Isra  : Bagaimana kabarnya hari ini, sehat semuanya?
Semua  : Alhamdulillah bu,
Bu isra  : Okey, naikkan kertas kalian. Hari ini kita ulangan, minggu lalu saya janji ulangan tentang sel hewan ya kan. Tutup buku kalian dan masukkan ke dalam tas.
Bu Isra pun menulis soal di papan.

Yhana : Mampus deh hari ini, aku lupa kalo ada ulangan,. Gimana nih nurba.
Nurba  : Aku juga gak tau,mana belum belajar lagi,
Yhana   : Truz gimana nih?
Nurba  : Minta ajah ma anak cupu Nurlina ataw sam. Pasti dia mau kasih itu, atau kalau tidak,
                Nyontek di buku ajah.
Yhana  : Ide bagus tuh, boleh-boleh.
Nurba : Oke deh, sip!



 Ulangan biologi pun di mulai. Suasana di kelas saat itu sangat hening hingga ketika salah satu siswa berteriak.
Sahriani : Bu’ Nurba nyontek tuh bu’
Nurba   : apa-apaan sih kamu? ( dengan muka geram ke sahriani)
Bu Isra : Nurba Coba berdiri, dan kedepan ke ibu.
Nurba  : tapi saya tidak menyontek bu.
Bu Isra : kalo kamu memang tidak menyontek, maju kedepan.
Nurba  : Iya Bu, (berdiri dan naik ke tempat yang disuruhkan oleh bu isra.
Bu Isra  : Nurba ini apa? Kamu nyontek yah? (Sambil mengambil buku yang berada dalam laci nurba)
Nurba   : Maaf bu, tadi malam saya tidak belajar.
Bu Isra  : Kamu keluar dari ruangan ini, dan saya anggap  kamu tidak tuntas pada pembahasaan ini.

Nurba pun beranjak keluar, dan bergumang untuk membalas perbuatan hasriani. Karena gara-gara dialah, dia di keluarkan dalam kelas. Selang beberapa menit, bel jam istirahat telah berdering, dan Yhana pun keluar menghampiri sahabatnya itu.

Nurba  : Pokoknya saya harus membalas perbuatan dia.
Yhana   : iya, saya juga kesel ama dia, gimana kalo kita kerjain dia?
Nurba  : Boleh juga tuh ide kamu, tapi kerjainnya bagaimana?
Yhana  : sini saya bisikin.
Nurba   : hem, okey, besok kita jalankan rencana ini.
                    Suasana di kantin saat itu sangat riuh , karna saking laparnya siswa siswa. Kemudian tampak 3 preman sekolah yang sudah di
 kenal seluruh sekolah, syarifullah, awal, dan Bintang.
Syarif  : Egh, cupu   Pajak mana. Hari ini Kamu belum stor sama aku.
Syam  : Pajak apaan sih, kemarin kan aku sudah setor
Syarif  : Ya iya kemarin, tapi hari ini belum.
Nurlina    : Kamu ini apa-apaan sih, kerjaan Cuma minta uang ajah.
  Syam   : Maaf hari ini aku tak punya uang.
Bintang  : Saya gak mau tau, pokoknya kamu harus setor hari ini sama kami.
Nurlina  : Tapi kami tidak punya uang.
Awal     : Kalau kamu gak mau kasi, buku ini aku ambil lalu aku buang (sambil mengambil buku yang sedang di pegang oleh Lina)
Syam   : Jangan ambil buku dia, kami mohon jangan, buku itu berarti sekali untuk kami.
Syarif   : Saya gak mau tau, kalo kamu mau buku ini, bayar setor hari in.
Wilda  : Egh, apa-apaan sih, sukanya hanya majak orang, kalau mau uang, sana kerja, jangan majak orang, kasian tau.
Awal : Egh, kamu jangan jadi sok pahlawan yah,
Wilda  : Siapa juga yang jadi pahlawan, aku Cuma mau bantuin teman aku, itu ajah.
Syarif  : Kalo gitu kamu yang bayar pajaknya sam dan lina, kamu kan temannya.
Wilda  : Oke (sambil mengambil uang selebaran duapuluh ribu). Ini, pergi, dan jangan pernah gangguin sam dan lina lagi.
Syarif  : Hahahaha.. ayo teman kita pergi (sambil mengajak awal dan bintang pergi)
 Syarifullah dan kawan-kawannya pun meninggalkan wilda, lina  dan sam.
Sam : Makasih yah udah bantuin kami, kalau bukan kamu, aku nggak tau apa yang akan dilakukan syarifullah dan kawan-kawannya terhadap kami.
Wilda  : iya, tak apa-apa kok.
Lina    : Tapi kenapa kamu membayarkan pajak kami? Seharusnya kamu tak memberinya uang, kalau dibiasakan seperti itu, lama-lama dia malah minta terus.
Wilda    : Sudahlah, biar saja. Kalau kalian masih diganggu, sekali-sekali melawan dong.
Sam    : Tapi kami takut.
Wilda     : Sudahlah, oh iya ayo kita ke kelas.
       Sam, nurlina  dan wilda pun meninggalkan kantin dan beranjak ke kelas.
Syarifullah  : Hahaha, dapat jatah lagi nih.
Bintang  : tapi kayaknya ini kurang deh!
Awal  : iya, kalo uang segini mana bisa beli minuman, ini mah gak cukup.
Syarifullah  : Egh, itu Etty dan fhyra kita pajakin yuk.
      ( syarifullah pun pergi menuju ke tempat di mana fhyra dan etty duduk)
Awal  : Hy cantik.
Etty : Egh  apaan sih, gak usah sok manis di depanku deh.
Fhyra  : Pasti kemari untuk malak  kami yah?
Bintang  :  itu dah tau, sekarang bagi uangmu.
Etty  : tidak mau, uang aku terlalu bersih untuk aku bagikan ke kamu, pergi sana atau aku teriak nih.
Syarifullah  : teriak ajah, emang ada yang dengar.
   Etty pun berteriak, dan ternyata, pada saat itu Pak Yusuf sedang lewat dan melihat kejadian itu.
Pak Yusuf  : Egh.. Egh... Kau mau jadi Preman kah?Kalau kamu mau majak jangan sekolah disini. Apa ini sekolah nenek moyang kamu sehingga seenaknya kamu majak?
Bintang  : Saya Tidak majak pak, saya Cuma lewat disini, tapi tidak tau kenapa Etty malah berteriak pak.
Etty  : Bohong Pak!! Tadi dia majakin kami berdua.
Fhyra  : iya pak, dia majakin kami.
Pak Yusuf  : Oh, jadi kamu mau berbohong sama bapak?
Syarif         : tidak pak, tapi kami bukan preman dan tidak memajakin mereka  pak.
Pak Yusuf  : Ikut saya ke kantor
            Pak yusuf pun membawa ke-3 preman ini ke ruangan kepala sekolah
Pak Yusuf  : assalamu alikum . pak!
Pak Alim    : wa’alaikum salam. Wah!!!!. (terkaget) kenapa pak bawa murid kesini?
Pak yusuf  : ini pak. Ke-3 anak ini suka memalak di pelataran sekolah...
Bintang    : tidak pak!!. Kami tidak pernah memalak kok pak..
Awal        : betul pak! . kami tidak pernah melakukannya.
Pak alim  : SUDAAAHH DIIIIAAAAMMM!!!!!!!!!!!!!!!!!! . Saya tidak menyuruh kalian bicara !! . Pak Yusuf apakah yg meraka katakan betul adanya.?
Pak Yusuf  : Tidak pak . saya sudah melihat dgn mata kepala jidat kaki tangan saya sendiri. Bahwa mereka memalak siswa disini
Pak Alim  : Kalau begitu ini surat untuk orang tua kalian masing-masing. Besok kalau orang tua kalian tidak datang, terpaksa saya akan menghukum kalian.
Syarifullah  : iya pak
Pak alim : apa kalian tidak berfikir tentang perasaaan orang tua kalian? Mereka pasti kecewa kepada kalian karena perbuatan kalian.
Awal  : iya, kami minta maaf pak.
Pak Alim  : Sekarang kalian bisa keluar dari ruangan saya.
     Pulang sekolah, Syarifullah pun memberikan surat panggilannya kepada ibunya. Dan betapa terkejutnya Ibu syarifullah menerima surat tersebut.
Syarifullah  : BU, ini surat panggilan dari kepala sekolah.
Ibu Aulia  : kamu ngapain lagi nak di sekolah, sampai-sampai ibu di panggil lagi ke seolahanmu. Kamu malakin teman-teman kamu lagi yah?
Syarif  : akh, ibu ini gak usah banyak nanya, pokoknya besok ibu harus datang.
Ibu aulia  : nak, kita ini orang tidak punya, kamu seharusnya bisa membanggakan ibu, bukan malah mempermalukan ibu di depan kepala sekolahmu.
Syarif  : ibu ini, Diam. Dengar yah, aku menyesal terlahir dari orang miskin seperti ibu, aku melalukan hal ini disekolah karena ibu tidak pernah memberiku uang yang cukup.
Mendengar hal tersebut, Ibu syarifullah terduduk diam sedih dan menangis mendengar penuturan dari anak tunggalnya ibu Syarifullah jatuh Sakit. Dan keesoka harinya.
Pak Alim  : Pak Yusuf, coba panggilkan saya yarifullah dan teman-temannya.
Pak Yusuf  : Baik Pak.

Pak Yusuf pun meninggalkan ruangan dan menuju ke kelas Syarifullah. Dan ketika sampai disana..
Pak Yusuf  : Kenapa kalian ribut sekali, apa yang sedang kalian lakukan.
Nurlina     : Ini pak, katanya dompet Etty Hilang.
Pak Yusuf  : Apa betul dompet kamu hilang?
Etty : Iya pak,tdi waktu istirahat, saya simpan di tas pak, tapi pas saya balik, dompet saya hilang.
Pak Yusuf  : apa di kelas tadi ada temanmu yang tinggal?
Etty  : waktu itu yang terakhir keluar adalah saya sendiri pak, selepasnya saya sudah tidak tau.
Pak Yusuf  : Okey, kalo begitu bawa kedepan semua tas kalian dan duduk, dan untuk kalian bertiga (sambil menunjuk syarifullah, bintang dan awal) kalian di panggil ke ruangan kepala sekolah. Dan etty, tolong bantu bapak untuk memeriksa tas kalian satu persatu.
Etty  : Baik pak.
 Syarifullah, awal dan bintang pun keluar menuju ke ruangan kepala sekolah, sementara etty dan pak Yusuf sibuk memeriksa tas.
Fhyra         : Pak, ini Dompet Etty.
Pak Yusuf  : Apa benar ini dompet kamu? (sambil menunjukkan dompet ke Etty).
Etty             : Iya pak, ini dompet saya.
Pak Yusuf   : Ini tas siapa??
Sahriani    : itu tas saya pak, tapi bukan saya pak yang ambil.
Etty            : jelas-jelas dompet saya ada di tas kamu.
Sahriani    : tapi sumpah, bukan saya yang ambil dompet kamu.
Fhyra        : Egh, maling mana ada yang ngaku, kalo maling ngaku, penjaramah penuh.
Pak Yusuf   : sudah-sudah, Sahriani, Etty, kamu ikut bapak ke ruangan.
         Sahriani dan Etty pun beranjak meninggalkan kelas, dan tampak Yhana dan Nurba tersenyum puas melihat kejadian itu yang membuat Wilda curiga. Wilda pun keluar mengikuti langkah sahriani.
Wilda   : Ani, tunggu aku,.
Sahriani   : kenapa, kamu juga percaya kalo aku yang ambil dompet itu?
Wilda   :  Tidak, saya percaya kalo bukan kamu yang ambil dompet itu.
Sahriani  : Tapi aku takut.
Wilda     : Kamun gak usah takut, toh bukan kamu yang ambil dompet itu, optimis dong, jangan bersedih dan pesimis gitu.
Sahriani   : MAkasih yah.

                  Ketika berada di dalam ruangan, Bu isra mendapati kabar dari salah seorang siswa bahwa yang memasukkan dompet etty ke dalam  tas Sahriani adalah Nurba dan Yhana. Bu Isra pun segera menuju ke ruangan Pak Yusuf untuk menjelaskan hal tersebut.
BU Isra : Pak Yusuf, maaf sebelumnya, tadi saya mendengar informasi dari salah seorang siswa bahwa yang memasukkan dompet ke tas Sahriani adalah Nurba dan Yhana.
Pak Yusuf  : Apa siswa itu mempunyai bukti sehngga ibu percaya begitu saja?
Bu Isra   : Siswa tersebut sempat memperlihatkan Video yang memperlihatkan kalau Nurba dan Yhana yang memasukkan dompet itu ke tas Sahriani.
Pak Yusuf  : Kalo begitu, PAnggilkan aku YHana dan NUrba.
       BU isra pun memanggil Yhana dan Nurba untuk di tanyai.
Yhana   : Ada apa PAk?
Pak Yusuf  : Begini, saya mendengar informasi kalau kamu lah yang memasukkan dompet etty ke tas sahriani.
Nurba   : Apa bapak punya bukti?
Pak Yusuf  : IYa, salah seorang siswa punya video kamu yang sedang memasukkan dompet Etty ke Tas SAhriani kalian tidak bisa mengelak.
YHAna dan Nurba  : MAaf pak, Maafkan kami.
NUrba           :   kami melakukan hal ini karena kami kesal sama Hasriani. Kemarin gara-gara dia, saya di keluarkan waktu ulangan. Tapi kami menyesal pak.
Pak Yusuf   : kalau begitu kamu minta maaf sama hasriani dan Etty, dan saya tidak mau mendengar kalau kalian berbuat begitu lagi.
         Etty, nurba, Yhana, Hasriani pun saling berjabat tangan dan semuanya pun damai.

Disisi lain, Syarifullah terkejut saat dia berada dalam ruangan kepala sekolah, karena ada telepon yang mengatakan bahwa Ibunya, Bu Aulia meninggal dunia karena sakit.
Pak Alim  : Syarifullah, tadi ada telpon dari tetanggamu.
Syarifulla  : Ada apa emangnya pak?
Pak Alim   : Tabahkan hatimu yah, ibu kamu telah meninggal dunia.
Syarifullah  :”a…a… apa bapak bercanda? (kaget)
Pak Alim   : Saya serius.
Syarifullah terdiam lesu mendengar penuturan itu, dan saat itu, dia langsung pulang ke rumahnya.
Syarifullah sejak kematian ibunya berubah 180 derajat, dan mulai merubah dirinya dan teman-temannya untuk berbuat yang lebih baik.

                                                                             SELESAI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar